Konsumen tidak hanya bisa digilas oleh produsen raksasa, tapi bisa juga diseruduk oleh pedagang kaki lima. Sebagai warga Bandung (yang berbahasa Sunda sehari-hari), namun keturunan Tionghoa, saya seringkali mengalami diskriminasi harga. Bubur yang harganya hanya 8000 jika dijual ke orang lain, dijual 13.000 ke saya. Kupat tahu yang seharusnya hanya 5000, dihargai 7500 saat saya ingin membayar. Ini tidak terjadi sekali dua kali, tapi berkali-kali.
Taktik untuk menghindarinya, tentu saja, dengan selalu bertanya harga dulu di awal sebelum membeli. Tapi kadang-kadang saya lupa, dan biar bagaimanapun saya tidak menyukai tindakan diskriminasi harga yang berbau SARA seperti ini.
Yang menarik, ini tidak terjadi dengan rata-rata pedagang kaki lima di Jakarta. Walaupun sebetulnya banyak penjual barang/jasa yang "lihat orang" (seperti ojek atau taksi non-argo atau tukang buah/sayur), namun hanya di Bandung penjual makanan berkelakuan seperti ini.
Ada beberapa kemungkinan: Pertama, pedagang kaki lima di Jakarta rata-rata pendatang pula (banyak yang berasal dari Jawa) sementara di Bandung pedagangnya rata-rata "tuan rumah" (orang Sunda) sehingga merasa lebih berani/berhak melakukan hal ini.
Bisa juga, ini terjadi karena budaya Sunda/Jawa yang berbeda.
Penyebab lain yang mungkin, korban diskriminasi di Bandung cenderung menerima saja perlakuan ini (tidak protes), sementara di Jakarta banyak korban yang tidak terima dan penjual lebih berhati-hati dalam melihat orang.
Yang jelas, tindakan diskriminasi harga seperti ini hanya menguntungkan secara jangka pendek, namun mengurangi satu pelanggan. Saya tidak pernah membeli makanan di tempat yang sama lagi begitu mendapat perlakuan diskriminatif ini.
Curhat Konsumen
5 Apr 2011
13 Okt 2010
Restoran-restoran salah hitung
Tanpa bermaksud menuduh atau merusak nama baik, berikut ini daftar pendek rumah makan yang pernah dikunjungi oleh penulis di Bandung di mana penulis mengalami kesalahan perhitungan tagihan/bill. Anehnya, salah hitungnya selalu lebih tinggi (tidak pernah lebih rendah). Dan terjadi lebih dari sekali.
1. Mie Akim, Jl. Sudirman dekat/seberang Klinik Elim dan Gereja Anugrah. Kalau tidak salah, mie Akim aslinya ada di Jl. Rama, yang di Sudirman ini buka cabang. Perhitungannya manual (tidak pakai cash register). Kejadiannya sekitar 1 tahun lalu. Ketika bon-nya dicek di rumah, ada kelebihan hitung 10rb (seharusnya 58rb tapi dihitung sebagai 68rb). Ketika diceritakan kepada salah seorang teman, rupanya ia pernah mengalami hal yang sama juga dan berkata agar hati-hati dan menghitung ulang jika makan di tempat ini. Sejak saat itu penulis tidak pernah membeli makanan di Mie Akim Sudirman lagi.
2. Warung Laos, Jl Cihampelas (dekat Premier Supermarket/McDonalds/seberang Ciwalk). Perhitungan memakai cash register. Kejadiannya lebih dari setahun yang lalu, tapi dua kali hampir berturut-turut. Pertama kali, setelah makan sewaktu dicek ternyata ada item topping pizza yang ditambahkan, padahal sebetulnya tidak ada. Kedua kali, terjadi kesalahan tipe pizza yang dimasukkan ke cash register (yang dimasukkan tipe pizza yang lebih mahal).
Jika ada pembaca yang mengalami hal yang sama dengan rumah makan di tempat Anda, silakan berbagi lewat komentar.
Seperti biasa, setiap selesai makan, periksa kembalilah bon Anda.
1. Mie Akim, Jl. Sudirman dekat/seberang Klinik Elim dan Gereja Anugrah. Kalau tidak salah, mie Akim aslinya ada di Jl. Rama, yang di Sudirman ini buka cabang. Perhitungannya manual (tidak pakai cash register). Kejadiannya sekitar 1 tahun lalu. Ketika bon-nya dicek di rumah, ada kelebihan hitung 10rb (seharusnya 58rb tapi dihitung sebagai 68rb). Ketika diceritakan kepada salah seorang teman, rupanya ia pernah mengalami hal yang sama juga dan berkata agar hati-hati dan menghitung ulang jika makan di tempat ini. Sejak saat itu penulis tidak pernah membeli makanan di Mie Akim Sudirman lagi.
2. Warung Laos, Jl Cihampelas (dekat Premier Supermarket/McDonalds/seberang Ciwalk). Perhitungan memakai cash register. Kejadiannya lebih dari setahun yang lalu, tapi dua kali hampir berturut-turut. Pertama kali, setelah makan sewaktu dicek ternyata ada item topping pizza yang ditambahkan, padahal sebetulnya tidak ada. Kedua kali, terjadi kesalahan tipe pizza yang dimasukkan ke cash register (yang dimasukkan tipe pizza yang lebih mahal).
Jika ada pembaca yang mengalami hal yang sama dengan rumah makan di tempat Anda, silakan berbagi lewat komentar.
Seperti biasa, setiap selesai makan, periksa kembalilah bon Anda.
16 Sep 2010
Hati-hati, kartu ATM/visa debit Bank Mandiri bisa digunakan tanpa PIN
Kartu ATM Mandiri yang merangkap kartu visa debit dapat digunakan di sebagian merchant tanpa PIN sama sekali. Yang dibutuhkan hanyalah tanda tangan di atas resi yang diprint, mirip seperti transaksi kartu kredit. Bedanya dengan transaksi kartu kredit adalah, jumlah transaksi akan langsung didebet dari rekening tabungan Anda. Merchant-merchant yang menggunakan IDC yang digesek, dan bukan dicoloklah, yang tidak menggunakan PIN seperti dijelaskan di atas.
Ini jelas tidak aman, karena jika kartu dicuri maka si pencuri dapat langsung membelanjakan kartu kita. Tanda tangan pun bisa ditiru langsung dari belakang kartu. Dan seandainya tidak ada tanda tangan kita di kartu pun, si pencuri tinggal membubuhkan tanda tangan palsu di kartu.
Ketika ditanyakan ke pihak Mandiri, ternyata:
* kita tidak bisa melakukan dispute seperti halnya di kartu kredit, jika kartu kita hilang atau dicuri, kita harus berlomba secepat-cepatnya untuk menelepon Mandiri untuk memberitahukan hal ini dan memblokir kartu. Jika kartu disalahgunakan pencuri sebelum kita lapor, semua transaksi yang telah dilakukan harus kita tanggung.
* kita tidak bisa mematikan fitur transaksi tanpa PIN ini.
Salah satu bukti lagi bahwa keamanan nasabah bukanlah prioritas nomor satu bagi bank.
Beberapa tip untuk meningkatkan keamanan:
* Jangan bawa-bawa kartu ATM/visa debit Mandiri Anda jika tidak perlu.
* Jangan pernah menandatangani kartu ATM/kartu kredit, melainkan coret-coreti saja sampai penuh sehingga tidak ada tempat untuk membubuhkan tanda tangan lagi. Dengan demikian, pencuri tidak bisa meniru tanda tangan kita, dan juga tidak bisa membubuhkan tanda tangan palsu.
* Pertimbangkan beralih dari Mandiri ke penerbit kartu lain yang lebih aman (contoh: BCA, di mana setahu penulis semua transaksi debit membutuhkan PIN).
Ini jelas tidak aman, karena jika kartu dicuri maka si pencuri dapat langsung membelanjakan kartu kita. Tanda tangan pun bisa ditiru langsung dari belakang kartu. Dan seandainya tidak ada tanda tangan kita di kartu pun, si pencuri tinggal membubuhkan tanda tangan palsu di kartu.
Ketika ditanyakan ke pihak Mandiri, ternyata:
* kita tidak bisa melakukan dispute seperti halnya di kartu kredit, jika kartu kita hilang atau dicuri, kita harus berlomba secepat-cepatnya untuk menelepon Mandiri untuk memberitahukan hal ini dan memblokir kartu. Jika kartu disalahgunakan pencuri sebelum kita lapor, semua transaksi yang telah dilakukan harus kita tanggung.
* kita tidak bisa mematikan fitur transaksi tanpa PIN ini.
Salah satu bukti lagi bahwa keamanan nasabah bukanlah prioritas nomor satu bagi bank.
Beberapa tip untuk meningkatkan keamanan:
* Jangan bawa-bawa kartu ATM/visa debit Mandiri Anda jika tidak perlu.
* Jangan pernah menandatangani kartu ATM/kartu kredit, melainkan coret-coreti saja sampai penuh sehingga tidak ada tempat untuk membubuhkan tanda tangan lagi. Dengan demikian, pencuri tidak bisa meniru tanda tangan kita, dan juga tidak bisa membubuhkan tanda tangan palsu.
* Pertimbangkan beralih dari Mandiri ke penerbit kartu lain yang lebih aman (contoh: BCA, di mana setahu penulis semua transaksi debit membutuhkan PIN).
Langganan:
Komentar (Atom)